Waduhh….. Hot Serial News Barbarisme Digital..

 

http://inet.detik.com/read/2013/01/29/111143/2154994/328/india-blokir-proyek-jaringan-huawei-dan-zte

India Blokir Proyek Jaringan Huawei dan ZTE

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
Selasa, 29/01/2013 11:47 WIB
New Delhi – India benar-benar membuktikan ancamannya memblokir Huawei dan ZTE. Kedua vendor jaringan asal China ini tak diperkenankan untuk ikut serta dalam megaproyek pembangunan kabel optik nasional di India yang menelan biaya investasi sekitar USD 3,9 miliar.

Langkah ini ditempuh pemerintah India setelah mempelajari kasus penolakan Huawei dan ZTE di Amerika Serikat. Penegasan ini juga disampaikan oleh Departemen Telekomunikasi India yang memerintahkan tak ada campur tangan asing dalam pembangunan serat optik di area rural tersebut.

Seperti detikINET kutip dari ZDNet, Selasa (29/1/2013), keputusan ini terbit setelah Badan Riset Teknologi milik pemerintah menyarankan Huawei Technologies dan ZTE untuk tidak diberi izin mengikuti proyek yang di Indonesia bisa diibaratkan semacam tender Palapa Ring.

Alhasil, hanya vendor lokal yang direstui untuk ikut proyek jaringan nasional ini, antara lain Himachal Futuristic Communications (HFCL), ITI, Tejas Networks, Center for Development of Telematics (C-DoT), VMC Systems, Prithvi Infosystems, Sai Systems, United Telecoms, dan SM Creative.

Dalam memo internal yang dikirimkan badan riset ke Menteri Telekomunikasi R Chandrasekhar pada November 2012 lalu, Huawei dan ZTE diminta untuk tidak dilibatkan dalam proyek-proyek pemerintah yang bersifat sensitif setelah adanya hasil temuan dari kongres AS yang menyatakan kedua perusahaan memiliki hubungan dengan militer China.

Seperti diketahui, hasil investigasi dari Komite Intelijen AS bentukan parlemen negara tersebut menyarankan perusahaan-perusahaan di negara tersebut untuk menghindari bekerjasama dengan Huawei dan ZTE.

Laporan dari komite itu juga menyarankan setiap aksi korporasi yang melibatkan kedua vendor tersebut baik itu akuisisi, pengambilalihan, atau merger harus diblokir oleh regulator setempat.

Dalam laporan itu disarankan peralatan atau sistem teknologi informasi dan komunikasi dari pemerintah AS tidak menggunakan peralatan dari Huawei atau ZTE. Namun sayangnya, laporan itu tidak menyebutkan adanya bukti tentang keterlibatan kedua vendor itu terhadap pemerintah atau militer China.

Pemerintah China sendiri menolak tudingan keras tersebut dan meminta AS untuk memisahkan isu politik dengan ekonomi. Pihak Huawei di India juga menegaskan selalu mematuhi aturan yang berlaku di negeri itu dan menjadi vendor pertama yang menandatangani komitmen terkait masalah keamanan.

Pada 2010 lalu, Huawei bahkan menyatakan kesediaannya untuk membuka kode sumbernya untuk diperiksa oleh pakar yang ditunjuk pemerintah India. Huawei juga menyetujui konsesi aksi pemerintah India yang sempat melarang penggunaan peralatan dari vendor China di awal tahun, walau akhirnya larangan itu dicabut dua bulan kemudian.

Sementara di Indonesia, Huawei juga sempat diterpa masalah pada akhir November 2012 lalu. Para karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Huawei Tech Investment (Sehati) melakukan aksi mogok kerja dengan alasan terlalu banyaknya tenaga kerja asal China yang dibawa ke Indonesia sehingga ada kesenjangan kesejahteraan.

Meski demikian, Huawei Technologies secara global pada akhir 2012 lalu mencatatkan omzet sebesar USD 35,3 miliar atau naik 8% dibandingkan pencapaian 2011. Penopang pendapatan selama 2012 lalu adalah dari pasar jaringan di luar China.

 

http://indo.wsj.com/posts/2013/02/04/barbarisme-digital-cina/

Barbarisme Digital Cina

Dalam sebuah kunjungan ke kantor kami di Amerika tahun lalu, seorang anggota legislatif yang tahu seluk-beluk urusan intelijen berkata bahwa dalam urusan spionase via internet, hanya ada dua jenis perusahaan di Amerika Serikat (AS): yang sistemnya pernah diretas, dan yang tidak tahu sistemnya sudah diretas.

Jadi, tak heran jika Wall Street Journal juga berhasil diretas.

Akun surat elektronik (surel) puluhan redaktur, reporter, dan penulis tajuk rencana WSJ telah diretas selama berbulan-bulan, atau malah lebih, oleh pemerintah Cina. Para peretas itu menembus sistem kami dan mengawasi pemberitaan kami tentang Cina. Tahun lalu, kami berhasil mengetahui aksi mereka dan mengambil sejumlah langkah pencegahan. Serangan serupa juga ditujukan kepada New York Times, yang meyakini pengintaian cyber itu dilakukan oleh unit militer Cina. Bahkan, tahun lalu, usaha pembobolan juga diarahkan pada Bloomberg News.

Kami berpendapat semua serangan itu berasal dari satu sumber belaka. Terkait dengan motif, kawan-kawan kami di New York Times menduga upaya itu berhubungan dengan investigasi mereka terhadap kekayaan keluarga mantan perdana menteri Cina, Wen Jiabao, yang dijuluki “si kakek.” Bloomberg meyakini peretasan itu terjadi usai munculnya pemberitaan mengenai orang-orang kaya yang punya hubungan darah dengan Xi Jinping, yang ketika itu menjabat wakil presiden Cina. Kini, Xi Jinping menduduki pos sekretaris jenderal.

Kami sendiri bisa menyebutkan sejumlah artikel di Wall Street Journal yang telah mempermalukan rezim Cina, terutama yang berkaitan dengan kejatuhan ketua Partai Komunis di Chongqing, Bo Xilai, tahun lalu. Pemerintah Cina sering berkeberatan dengan artikel-artikel tersebut. Negara itu kerap menyensor halaman WSJ yang memuat kisah korupsi Cina atau yang menerbitkan tulisan mengenai pihak-pihak antipemerintah—pejuang kemerdekaan Tibet dan Uighur—serta pemberontak lain yang menentang kesewenang-wenangan Beijing. Kami menganggap adanya sejumlah penulis tajuk rencana yang menjadi korban peretasan sebagai pencapaian jurnalistik.

Wall Street Journal melihat spionase cyber tidak hanya berkenaan dengan kisah-kisah tertentu yang dimuat. Tapi jauh melampaui itu. Pengintaian itu menargetkan sumber dan pemberitaan secara umum. Seperti yang telah ditemukan oleh Google, Nortel, maupun BAE Systems, peretasan—baik dengan tujuan pengawasan maupun pencurian kekayaan intelektual yang sifatnya komersil atau bahkan rahasia negara—telah menjadi gaya Cina.

Hal itu pula yang menjadi simpulan dari laporan yang disiapkan Komite Intelijen di DPR AS. Komite itu menyelidiki klaim oleh raksasa telekomunikasi Cina, Huawei dan ZTE, yang menyatakan keduanya bersih. Menurut klaim itu, ekspansi mereka ke AS takkan melahirkan risiko pengintaian cyber ataupun ancaman lain yang membahayakan infrastruktur penting.

Sebaliknya, komite itu menemukan, terutama di Huawei, adanya keterlibatan mantan direktur Akademi Rekayasa Informasi Angkatan Darat Cina dalam pendirian perusahaan. Huawei memiliki kedekatan dengan Partai Komunis dan pernah memanipulasi kepemilikannya. “Banyak perusahaan di AS pernah mengalami insiden ganjil atau bahkan mencurigakan ketika memakai peralatan Huawei atau ZTE,” demikian laporan itu. Kedua perusahaan itu menampik adanya dugaan tersebut.

Kami harap keduanya punya alasan lebih kuat ketimbang respons yang Wall Street Journal dapatkan dari para pejabat Cina ketika dihadapkan dengan bukti peretasan. “Pemerintah Cina melarang adanya serangan cyber dan telah melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk memerangi aktivitas semacam itu sesuai dengan perundang-undangan Cina,” seorang juru bicara dari Kedutaan Besar Cina berujar kepada Wall Street Journal.

Pernyataan itu sama kredibelnya dengan pernyataan ala Soviet era Andrei Groymko. Ketika para pejabat Cina bertanya-tanya kenapa perusahaan seperti Huawei sulit berkembang dan mendapatkan izin di luar negeri, mereka bisa menimbang bagaimana rasa ingin tahu dan pencurian ala Soviet merusak reputasi Cina.

***

Pertanyaan terbesarnya adalah kenapa Cina melakukan itu dan apa yang mendasari keharusan pengintaian oleh rezim.

Dalam artikel opininya di WSJ tahun lalu, Mike McConnell, Michael Chertoff, dan William Lynn menyatakan “Pemerintah Cina memiliki kebijakan nasional pengintaian ekonomi di dunia cyber.” Ketiga mantan pejabat keamanan nasional AS itu menengarai adanya keharusan dari Beijing untuk menumbuhkan ekonominya secara tajam guna memperbaiki nasib penduduknya. “Menurut Cina, mencuri inovasi dan kekayaan intelektual lebih efisien,” tulis mereka, “daripada menghabiskan biaya dan waktu untuk menciptakan hasil pemikiran sendiri.”

Hal itu ada benarnya, meski patut ditekankan bahwa serbuan Beijing lewat Internet itu bukanlah petualangan a la Robin Hood yang mencuri kekayaan di bidang teknologi dan menyebarkannya kepada orang-orang. Alasan utama spionase Cina itu adalah terancamnya rezim oleh keterbukaan informasi. Bahkan, oleh pikiran rakyatnya sendiri. Hal yang biasa terjadi pada despotisme.

Apapun pikiran Cina ketika meretas kami, mereka tidak bisa menghentikan terbitnya berita. Mereka cuma memperbesar rasa malu karena serangannya berhasil dideteksi dan diberitakan. Mungkin, mereka kini takkan mengizinkan kami masuk ke negerinya, mengusik para jurnalis kami, atau mengganggu bisnis kami di Cina.

Sementara itu, kami tahu FBI tengah menyelidiki peretasan media oleh Cina dan menganggapnya sebagai ancaman keamanan nasional. Model kejahatan mereka pun usang, dan dilakukan oleh pemerintah yang berambisi menjadi negara adikuasa berikutnya namun bertingkah macam korporasi raksasa berisi para pencuri.

Cina pernah jadi pusat peradaban manusia. Namun, di dunia digital, Cina masih barbar. Apapun yang coba mereka pelajari dari kami dengan cara sembunyi-sembunyi, dunia kini mengetahui lebih banyak tentang mereka.

 

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/10/10/mbn1ru-kongres-as-minta-fbi-investigasi-huawei

Kongres AS Minta FBI Investigasi Huawei

Wednesday, 10 October 2012, 04:17 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah komisi di Kongres Amerika Serikat (AS) mengatakan akan meminta FBI untuk menginvestigasi sebuah laporan yang menatakan perusahaan Cina, Huawei, melakukan korupsi dan suap untuk memperoleh kontrak di AS.

Huawei adalah satu dari dua pabrik peralatan telekomunikasi Cina yang oleh komisi intelijen DPR Amerika direkomendasikan untuk dilarang masuk ke pasar Amerika karena produk-produknya dapat digunakan dalam spionase.

Seperti dilaporkan ABC, Selasa (9/10), laporan komisi tersebut menyusul investigasi selama 11 bulan terhadap Huawei Technologies Co Ltd dan saingannya yang lebih kecil, ZTE Corp.

Kedua perusahaan itu selama ini berusaha melawan kecurigaan Kongres Amerika dan memperluas bisnis mereka di Amerika Serikat, setelah menjadi pemain utama dalam pasar dunia.

Sebelumnya tahun ini, Huawei, yang sudah berada di Australia sejak 2004, diblokir dari proses tender untuk Jaringan Broadband Nasional karena alasan keamanan nasional.

Kekhawatiran Komisi Kongres Amerika tadi jelas akan meredupkan masa depan kedua perusahaan itu di Amerika dan mungkin juga akan menimbulkan ketegangan baru dalam hubungan perdagangan AS-Cina.

Ketua Komisi, Mike Rogers, mengatakan, perusahaan-perusahaan yang menggunakan peralatan Huawei melaporkan “sejumlah tudingan”, antara lain pengiriman data ke Cina pada malam hari.

Mike Rogers, seorang mantan agen FBI, mengatakan, kekhawatiran pihaknya ditambah lagi dengan apa yang dilukiskannya sebagai tidak adanya kerja sama dari pihak perusahaan dalam investigasi.

Komisi merekomendasikan agar Komisi Investasi Asing di Amerika Serikat, yang mengevaluasi risiko keamanan nasional dari investasi asing, sebaiknya memblokir deal yang menyangkit Huawei atau ZTE.

Sementara itu, pabrik peralatan networking, Cisco Systems, telah mengakhiri kemitraan yang sudah lama dengan ZTE menyusul investigasi internal atas tuduhan bahwa perusahaan tersebut menjual produk Cisco ke Iran.

 

http://www.executivenewsnet.com/exclusive-eu-cites-chinese-telecoms-huawei-and-zte-for-trade-violations/

By Daniel Bases

NEW YORK |
Sat May 18, 2013 3:25am EDT

NEW YORK (Reuters) – Europe’s tip trade central for a initial time late on Friday strictly cited Chinese mobile telecommunications apparatus makers Huawei and ZTE Corp for violating anti-dumping and anti-subsidy guidelines.

European Union Trade Commissioner Karel De Gucht pronounced he was prepared to launch a grave review into anti-competitive function by these Chinese companies in sequence to strengthen a “strategic” zone of Europe’s economy.

“Huawei and ZTE are transfer their products on a European market,” De Gucht told Reuters in an disdainful talk before enchanting with U.S. businesses as partial of his preparations for negotiating a Transatlantic giveaway trade agreement with a United States. Those talks are approaching to start in July.

An review now into sales practices of Chinese telecoms apparatus companies would open adult a new front in a multibillion-euro trade descent opposite a vicious partner.

The EU is China’s many critical trade partner, while for a EU, China is second usually to a United States. Chinese exports of products to a 27-member confederation totaled 290 billion euros ($372 billion) final year, with 144 billion euros going a other way.

Cheap collateral for these Chinese companies “creates a twisted personification margin and that is what this is about,” De Gucht said, referring to Huawei and ZTE, respectively a world’s No. 2 and No. 5 telecom apparatus makers.

Huawei denied it had damaged any rules.

“In Europe and in all markets, Huawei always plays acceptable and we win business and trust from a business by a innovative record and peculiarity service, rather than around pricing or subsidies,” a association pronounced in a matter e-mailed to Reuters.

Separately, a central China Daily quoted Huawei’s Western Europe boss Tao Jingwen as observant that a firm’s rivals were blaming a association for their possess failures.

“Some European companies have blamed Chinese companies for their losses, though infrequently they were caused by their possess laziness,” Tao pronounced in a news carried before a announcement of De Gucht’s remarks.

ZTE could not be reached immediately for comment, though a association has also in a past denied benefiting from bootleg state support.

A STRATEGIC PAUSE

De Gucht’s bureau on Wednesday pronounced an review was prepared though put on hold. At a time no companies were strictly named. The postponement is to concede serve negotiations with China in hopes for a resolution.

“We have already had 3 rounds of negotiations on that, though though any acceptable outcome,” he said.

“I consider it is improved for a whole universe economy and trade that these dual large trade partners come to an gentle resolution on what is in fact a really vital and essential sector. But we need dual to tango and we have a required solve to go for it if necessary,” he said.

 

http://www.businessweek.com/news/2012-10-07/huawei-zte-provide-opening-for-china-spying-report-says

By Eric Engleman

October 08, 2012

Huawei Technologies Co. and ZTE Corp. (763), China’s two largest phone-equipment makers, provide opportunities for Chinese intelligence services to tamper with U.S. telecommunications networks for spying, according to a congressional report released today.

The House intelligence committee report said the companies failed to cooperate with a yearlong investigation and to adequately explain their U.S. business interests and relationship with the Chinese government.

“Huawei and ZTE seek to expand in the United States, but as a result of our investigation, we do not have the confidence that these two companies with their ties to the Chinese government can be trusted with infrastructure of such critical importance,” the committee’s chairman, Michigan Republican Mike Rogers, said.

The U.S. government should block acquisitions or mergers by Huawei and ZTE, the report said. Government agencies and contractors shouldn’t use equipment from the companies, and U.S. intelligence agencies should “remain vigilant and focused on this threat,” the report recommended.

The House investigation found credible reports of illegal behavior by Huawei, including immigration violations, bribery and corruption, based on statements from current and former employees, according to the report. Allegations will be referred to federal agencies including the Homeland Security and the Justice departments, according to the report, which didn’t provide full details or identify the accusers.

‘Political Distraction’

The committee will forward information on a “clear case of bribery in order to get a contract here in the United States” to the Federal Bureau of Investigation, probably tomorrow, Rogers said at a U.S. Capitol news conference today with the panel’s top Democrat, Maryland Representative C.A. “Dutch” Ruppersberger.

Huawei, in a statement today, said the report “employs many rumors and speculations to prove non-existent accusations.” The committee pre-determined the outcome of its investigation, the company said.

“The quality, the integrity of our products are world proven,” William Plummer, a Washington-based spokesman for the company, said in an interview after the committee members spoke. “It is a political distraction, it is a dangerous thing, to suggest that you can solve these vulnerabilities by embargoing a company. It’s a false sense of security. It ignores the fact that this is a global industry.”

‘State Influence’

Dai Shu, a ZTE spokesman, called it “noteworthy” that “after a yearlong investigation, the committee rests its conclusions on a finding that ZTE may not be ‘free of state influence.’” That standard “would apply to any company operating in China,” Dai said in an e-mailed statement.

Almost all telecommunications-infrastructure equipment sold in the U.S., by any company, contains Chinese-made components, Dai said. “ZTE recommends that the committee’s investigation be extended to include every company making equipment in China,” including Western companies that use equipment made by Chinese joint-venture partners and suppliers, Dai said.

ZTE shares fell 6 percent to HK$12.60 at the close of Hong Kong trading, the biggest decline since Aug. 27. The stock has lost 48 percent this year, compared with a 13 percent gain for the benchmark Hang Seng Index.

Rogers and Ruppersberger announced the probe of the Chinese companies last November, citing concerns about hacking into U.S. systems and theft of intellectual property. U.S. counterintelligence officials called China the world’s biggest perpetrator of economic espionage in a report last year, saying the theft of sensitive data is accelerating and jeopardizing an estimated $398 billion in U.S. research spending.

Odd Behavior

“Private-sector entities in the United States are strongly encouraged to consider the long-term security risks associated with doing business with either ZTE or Huawei for equipment or services,” the report says.

The committee received reports that routing equipment supplied by Huawei to U.S. customers “acted oddly,” Rogers said. He cited a process known as beaconing, which he said involves unauthorized processing and sending of information. One example would be a router that turns on in the middle of the night and sends large packets of data to China, he said.

Huawei first learned of the beaconing allegation at a House intelligence committee hearing last month, and it’s unclear what the committee is referring to, Plummer said in an interview.

 

http://inet.detik.com/read/2013/05/08/133448/2241057/399/markas-huawei-digerebek

Rachmatunisa – detikinet
Rabu, 08/05/2013 14:30 WIB
Bern – Huawei terancam akan kehilangan pesanan peralatan telekomunikasi cukup besar di Swiss. Swisscom, provider telekomunikasi utama di negara tersebut, memperingatkan akan menghapus Huawei dari daftar pemasok, jika perusahaan asal China ini terbukti melanggar hukum setempat.

Dilaporkan Cellular-news, Rabu (8/5/2013), kantor Huawei di Swiss didatangi pihak kepolisian pekan lalu. Penggerebekan ini mengharuskan sembilan orang karyawan diamankan.

Kepolisian mengklaim, karyawan Huawei terpaksa ditangkap karena melanggar aturan imigrasi. Diduga, beberapa staf dengan visa untuk kunjungan wisata, menggunakannya untuk bekerja di Swiss.

“Jika tudingan ini terbukti, kami tak akan lagi menggunakan Huawei sebagai pemasok. Kami saat ini sudah mencari alternatif lain pengganti Huawei,” kata CEO Swisscomm, Carsten Schloter.

Dia menyebutkan, ini berhubungan dengan kepercayaan dan mereka harus memastikan pemasoknya mematuhi undang-undang Swiss. Huawei sendiri selama ini sudah dipercaya Swisscomm menjadi pemasoknya untuk divisi landline service.

Serikat Pekerja Laporkan Menagement PT Huawei ke KPK Atas Dugaan Kasus Suap di Imigrasi
Friday 22 Feb 2013 00:33:13
JAKARTA, Berita HUKUM – Upaya hukum dari Serikat Karyawan Pekerja Sehati dari PT Huawei Tech Investment, perusahaan asing yang beralamat di Kantor Pusat Plaza BRI BRI Jl. Jendral Sudirman Kav 44-46 Jakarta, memasuki babak baru. Hari Kamis (21/2), beberapa perwakilan serikat pekerja PT Huawei Tech Investment telah melaporkan managemen dan petugas imigrasi serta menyerahkan bukti-bukti yang mereka punya ke KPK terkait kutipan masuk pekerja asing asal RRC.

Setelah membuat laporan resmi kepada KPK, Paulin Pasaribu dan rekan-rekan serikat pekerja langsung memberikan keterangan kepada wartawan.

Paulin Pasaribu merupakan salah seorang pengurus serikat pekerja SBSI di PT Huawei mengungkapkan bahwa, “pelaporan atas dugaan penyuapan kepada pihak imigrasi, sebelumnya kami sudah melaporkan kasus ini ke imigrasi, serta Polda Metro Jaya, namun tidak mendapat tanggapan,” ujar Paulin Pasaribu.

Pihak serikat pekerja melaporkan secara resmi Managemen PT Huawei Tech Investment ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Begitu juga menurut rekan Paulin, para pekerja asal RRC sangat arogan dan kasar terhadap pekerja Indonesia, bila pekerja muslim terlambat waktu sholat, kami dimarahin bahkan disuruh push up.

Sementara ketua NIKEUBA-SBSI PT Huawei Tech, Heru Waskito Krisna Murti ST telah mendapat surat pemecatan, sedangkan saudari Paulina Pasaribu ST sendiri kerena menjabat bendahara dalam Pengurus Komisariat Serikat Pekerja yang di komandoi Heru Waskito Krisna Murti ST juga sudah mendapat surat SP3.

Kepala Biro Operasional Kepegawaian HRD PT Huawei Tech Investment, Dani Ristandi dan Humas-nya Anthony Willy tidak bersedia mengangkat telepon ketika pewarta BeritaHUKUM.com mencoba mengirimkan SMS juga engan menjawab kelaripikasi tentang laporan dan masalah pekerja asing ilegal, juga balasan atas email yang telah dikirim, hinga saat ini belum juga mendapat tanggapan dan jawaban resmi.

Dirjen Imigrasi melalui Staf Humas Heriawan Rabu (20/2) mengatakan kepada pewarta BeritaHUKUM.com bahwa, “silahkan dilaporkan dan bantu kami bila ada menemukan pelanggaran dalam pungutan terhadap tenaga kerja asing,” ujarnya sambil mengatakan pak Dirjen sendiri sedang ada meeting.(bhc/put)

workwithout permit2

hasil Investigasi:

http://intelligence.house.gov/sites/intelligence.house.gov/files/Huawei-ZTE%20Investigative%20Report%20%28FINAL%29.pdf

Huawei-ZTE Investigative Report (FINAL)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s